Dalam dunia kuliner maupun pertukangan, pisau adalah ekstensi dari tangan penggunanya. Sebuah pisau yang mahal sekalipun tidak akan memberikan performa maksimal jika tidak dirawat dengan benar, terutama dalam hal ketajaman. Menggunakan Asah Batu (Whetstone) adalah metode tradisional sekaligus paling efektif untuk mengembalikan fungsi mekanis pisau ke titik puncaknya. Berbeda dengan pengasah tarikan instan yang cenderung mengikis logam secara paksa, batu asah memberikan kontrol penuh kepada penggunanya untuk membentuk kembali geometri mikro pada tepi bilah secara halus dan presisi.
Kunci utama dari pisau yang mampu mengiris kertas atau bulu dengan lembut terletak pada konsistensi Teknik Menjaga Sudut saat proses pengasahan dilakukan. Banyak orang gagal saat mengasah karena tangan mereka goyah, menyebabkan sudut yang dihasilkan tidak seragam di sepanjang bilah. Untuk pisau dapur gaya Jepang atau pisau modern berkualitas tinggi, sudut yang paling ideal untuk mencapai keseimbangan antara ketajaman ekstrem dan daya tahan adalah 15 derajat. Jika sudut terlalu besar (tumpul), pisau akan terasa berat saat memotong; jika terlalu kecil (terlalu lancip), mata pisau akan sangat tajam namun cepat rompal atau meliuk saat mengenai bahan yang keras.
Mempertahankan posisi Mata Pisau tetap stabil pada sudut 15 derajat membutuhkan latihan memori otot yang disiplin. Cara paling sederhana untuk memvisualisasikan sudut ini adalah dengan membayangkan setengah dari sudut 45 derajat, atau menempatkan tumpukan dua koin di bawah punggung pisau saat diletakkan di atas batu asah. Selama gerakan mengasah—baik didorong maupun ditarik—posisi pergelangan tangan tidak boleh berubah. Setiap perubahan derajat yang tidak disengaja akan merusak kerja keras Anda sebelumnya dan justru menciptakan tepi yang membulat, yang justru membuat pisau terasa tumpul meskipun sudah diasah lama.
Penggunaan batu asah sendiri biasanya melibatkan dua tahap atau lebih, tergantung pada tingkat kerusakan Pisau tersebut. Dimulai dengan batu dengan tingkat kekasaran (grit) yang rendah untuk memperbaiki kerusakan fisik atau membentuk kembali sudut dasar, kemudian dilanjutkan dengan grit tinggi untuk menghaluskan dan memoles tepi bilah. Selama proses ini, air berfungsi sebagai pelumas sekaligus pembersih serpihan logam agar tidak menyumbat pori-pori batu. Tekanan yang diberikan juga harus konsisten; tidak perlu menekan terlalu kuat, biarkan butiran abrasif pada batu yang melakukan tugasnya untuk mengikis logam secara perlahan namun pasti.
